Tampilkan postingan dengan label bukan tulisan lacur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bukan tulisan lacur. Tampilkan semua postingan

19/04/11

Tulislah Kebenaran di Bungkus Kacang Itu!

Wajah orang itu, lagi-lagi tertampang di halaman utama surat kabar yang ku baca sepintas di lampu merah. Tak muncul niatku untuk membeli dan membaca surat kabar itu lebih lanjut, berita yang ada di dalamnya tak akan mengejutkan lagi. Wajah orang itu, pasti muncul karena hal sama yang membuatnya muncul di koran edisi kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi. Kesamaan tema dan tokoh yang tampak di headline ini sama sekali tak menarik niat pembaca seperti aku. Pada lampu merah kali ini, sepertinya banyak orang yang setuju denganku. Saat lampu hijau bersinar sang penjual koran, tanpa kekurangan selembarpun korannya, mundur lima langkah untuk menunggu lampu merah berikutnya.
Di tempat lain, yaitu di kampus, aku mendapatkan pendapat yang sama mengenai isi berita surat kabar hari ini dari insan-insan intelek yang kutemui. Mereka adalah mahasiswa, bukan cinderela dengan sepatu kaca yang selalu bersabar menerima penganiyayaan ibu tirinya. Mereka adalah mahasiswa, bukan sekedar pengendara yang terhenti di lampu merah. Mereka adalah mahasiswa, insan intelek, tak hanya bersabar menerima ke kacauan yang diberitakan media cetak yang diacuhkan oleh pengendara yang terhenti di lampu merah. Mahasiswa, benar, maha-siswa, tak hanya menerima dan mengacuhkan, mahasiswa sudah sewajarnya bersifat kritis.
Benar saja, mahasiswa-mahasiswa ini memang kritis. Mulut mereka bukan hanya mengeluarkan asap rokok, mulut mereka juga mengeluarkan makian-makian puitis saat memberi komentar pada isi koran hari ini. Tangan mereka dipukulkan ke permukaan meja. Nada suara mereka meninggi. Segera tangan mereka meraih spanduk dan toa. Tubuh mereka tak lupa untuk menggunakan jas almamater. Kaki mereka berbondong-bondong melangkah ke jalan-jalan, beropini dengan sopan.
Segera spanduk mereka menggantikan wajah orang yang biasanya bertengger di headline koran. Teriakan mereka didengar, mungkin didengar, semoga didengar. Berita tentang mereka, yang menyerukan antipati pada orang dengan wajah yang diberitakan di koran yang tidak dibaca oleh orang-prang di lampu merah, kini di baca, mungkin dibaca, semoga dibaca. Spanduk itupun nampaknya menggantikan wajah orang itu secara semi-permanen di koran edisi hari-hari berikutnya.
Entah bagaimana, memamerkan spanduk di jalanan pun segera menjadi hobi mereka. Tema spanduk itupun beragam, antara antipati terhadap orang dengan wajah yang teroasang di headline koran di hari sebelum spanduk mereka mengisi headline koran itu, antipati terhadap sistem pendidikan yang membuat melahirkan mereka, antipati pada pemerintahan tahun depan, dan lain sebagainya. Tak selamanya spanduk mereka masuk ke berita. Saat berita tentang spanduk mereka hadirpun, kemungkinan kecil sekali wajah dan nama mereka tercantum.
Mungkin karena sudah tahu potensi kecil untuk menjadi populer dengan memamerkan spanduk antipati di jalanan, mungkin juga karena terinspirasi oleh semangat perjuangan Ki Hajar Dewantara yang dengan keras mempertegas bahwa pendidikan adalah pembangunan kepribadian, atau mungkin sekedar takut dimarahi orang tuanya seorang mahasiswa tetap tinggal di bangkunya saat semua temannya pergi ke jalan-jalan untuk mengangkat spanduk dan berteriak-teriak. Tangannya di atas meja, memegang pena, mencoret-coret selembar kertas yang ada di depannya. Terlihat kuno memang, dasawarsa ini mungkin sebagian besar mahasiswa tak lagi rajin menggunakan pena dan mencoret kertas, namun tidak dengan yang satu ini.
Tugas kuliah? Surat cinta? Atau sekedar catatan harian? tidak ada yang tahu apa yang dia tulis, namun semua orng tahu bahwa namanya muncul di koran beberapa hari kemudian. Bukan di headline tentang pameran spanduk antipati di jalanan, namun di sebuah kolom dimana nama orang-orang hebat biasa terpampang sebagai kontributor, kolom opini.
Kecerdasan yang lebih? Tidak. Koneksi di penerbitan surat kabar? Bisa jadi. Tapi tak ada yang benar-benar membedakannya dengan mahasiswa lain. Dia mahasiswa seperti lainnya, mungkin pulihan tentang apa yang dilakukannyalah yang membedakannya. Di saat teman-temannya berseru di jalan, dia lebih memilih berseru di koran. Mungkin, karena kesadarannya tentang kemampuannya, tentang apa yang dipelajarinya selama 9 tahun di bangku sekolah; menulis. "apakah belajar menulis hanya bertujuan agar muncul kemampuan menulis tugas-tugas dalam proses belajar lainnya?", mahasiswa di negeri ini mungkin punya jawaban beragam atas pertanyaan ini, dia menjawab "TIDAK". Itulah sebabnya dia menulis untuk bangsanya, meski kemampuannya yang belum seberapa, meski tawa mungkin muncul dari teman-temannya. Meskipun koran yang memuatnya pada akhirnya akan menjadi bungkus kacang.

"katakan kebenaran, jangan teriakkan kemarahan; Berilah, jika engkau meminta lebih sedikit; dengan tiga langkah ini engkau akan lebih dekat dengan Tuhan"

- Confusius



Photobucket

12/02/11

Catatan Kaki Untuk Gelas Plastik

"Hidup ini indah", kata pemuda yang tertidur di bawah naungan langit-langit yang penuh lubang dan sarang laba-laba itu. Tangannya menjadi bantal, menyangga kepalanya yang ringan karena tak terlalu banyak isinya. Kaki kanannya bertumpuh pada lutut kirinya yang tertekuk. Matanya sayu mayu tidak hijau tapi berkilau. Nafassnya tenang dan terdengar jelas hembusannya ke udara.
"Hidup ini indah", sekali lagi dia ulangi. Tak ada sautan seperti sebelumnya. Suaranya tidak menggema, pun tak menggaung. Jangkrikpun tak berbunyi.
"Hidup ini indah", dengan intonasi lebih jelas, nada yang lebih datar, dan tekanan yang lebih mendalam. Sekali lagi sautan tak dengar. Jangkrik tetap diam. Pemuda itupun memejamkan matanya.

Hari telah berganti saat mata itu kembali terbuka. Matahari telah cukup tinggi menyoroti hidup yang berulangkali dikatakannya indah sejak semalam. Dengan perlahan dia mempersiapkan dirinya untuk menjalani aktifitas sehari-harinya. Hidup memang cukup indah baginya.
Setelah berjalan kaki sekitar seratus meter, dia menghentikan bus kota, menaikinya untuk kemudian turun di tempat tujuannya. semua naik adalah untuk turun, itu yang dikatakannya suatu pagi ketika telah mendaratkan kedua kakinya di tempat tujuannya.
Setelah mendarat dari bus kota, dia perlu berjalan beberapa meter untuk sampai ke tempat dimana dia habiskan hidupnya selama beberapa waktu terakhir ini. Dalam perjalanan beberapa meter itulah dia bertemu dengan seorang wanita tua yang duduk dan mengangkat gelas plastik kosong seolah-olah mengajaknya untuk bersulang. Mengertilah dia apa yang dimaksudkan wanita itu. Dia kemudian memberi nenek itu sebuah kalimat motivasi "hidup ini indah". Kemudian pemuda itu tersenyum sambil kemudian berjalan meninggalkan nenek yang menjadi bingung karenanya.
Sore harinya, pemuda itu berjalan dengan arah terbalik, guna bisa kembali ke tempat tinggalnya. Di tempat yang sama, dia bertemu kembali dengan nenek yang pagi tadi di temuinya. Belum sempat nenek itu mengangkat gelas plastiknya, dia sudah memberikan nasihat lain "jika engkau mengharapkan pemenuhan dari orang lain, engkau tak akan pernah sungguh terpenuhi. Jika kebahagiaanmu tergantung pada uang, engkau tak akan pernah bahagia dengan dirimu sendiri."
Kutipan dari Tao-te-Ching itu nampaknya menutup hari kedua manusia itu. Pemuda itu kembali ke tempat tinggalnya dan meyakinkan dirinya bahwa hidup ini indah. Sementara sang nenek pulang entah kemana, membawa yang lebih berharga dari isi gelas plastiknya; sebuah nasihat.

Keesokan harinya, nenek itu kembali lagi ke tempat yang sama.

Gelas Plastik

Malam yang cerah ini mengingatkanku akan hujan di sore pada suatu hari Kamis. Hujan di kala itu mengurungku di lantai 3 sebuah gedung berlantai tiga. Keistemawaan berada di atas adalah dapat melihat kebawah, dan itulah yang ku alami sore itu. terlihat jelas kumbangan air yang menggenang hampir di seluruh pekarangan gedung, pejalan kaki yang jinjit dan melompat demi mempertahankan kekeringan alas kaki mereka, dan cipratan-cipratan air akibat putaran roda arogan kendaraan bermotor yang menggagalkan usaha para pejalan kaki itu.
Hal yang terlihat saat cerah, kadang terlihat pula di kala hujan, meski keadaannya sedikit berbeda, sedikit basah. Hal yang terlihat suram kadang menjadi lebih cerah saat hujan turun, karena petir, karena kilat, karena basah. Begitu pula wanita berusia lanjut yang setiap harinya duduk di pekarangan gedung tinggi itu sambil memegang sebuah gelas plastik. Beberapa orang yang berjalan melewatinya terkadang memasukkan uang ke dalam gelas plastik itu, dari recehan seratus, duaratus, limaratus, bahkan mungkin lima puluh ribu atau seratus ribu rupiah. Namun lebih sering orang berjalan dengan hanya memasukkan secuil senyum, sepotong iba, dan berpuing-puing rasa takut dengan karma buruk jika tak memasukkan apa-apa kedalam gelas itu. Namun perasaan takut pada karma buruk itu tak merata adanya pada manusia yang berlalu-lalang di hadapan wanita itu, karena orang-orang yang sama sekali tak memasukkan apa-apa tak kalah seringnya.
Wanita tua ini berpindah dari singgasananya yang kerap kali didudukinya menuju singgasana lain yang lebih teduh dan kering. Selama perpindahan singgasana itu, sekujur tubuhnya terbasahi oleh hujan yang tak memberi jeda untuk pergerakannya yang tak begitu cepat. Kulit, rambut, dan pakaiannya basah, namun dia tak begitu mempedulikan dan menyesalkannya dikarenakan dia bukanlah beliau-beliau, dia hanya dia dan tak sempat menjadi beliau.
Tak dapat aku menggambarkan ekspresinya, itu adalah hal tercerah di langit mendung, meski gelap dan tak berkilauan. Dengan senyum pucat penuh semangat kembali gelas pelastik itu dia angkat. orang-orang hebat berjalan lewat, walau tak sempat namun singgah melihat, ingin memberi namun kehilangan niat, hanya berdoa memohon berkat, lalu tinggalkan nenek yang berkeringat. Aku pun sempat lewat dan memberikan isi kantongku padanya, beberapa kali, namun kemudian aku sadar bahwa apa yang ku beri tak punya arti. Berapa rupiahpun yang kuberi, jika dia masih bisa, sebisa mungkin dia akan kembali ke tempat itu esok atau segera. Motivasinya sungguh luar biasa, mungkin tak ada seorang mahasiswapun di negeri ini yang dapat menyaingi semangatnya.
Sementara sebagian besar sarjana negeri ini kebingungan mencari lowongan kerja, dia sudah mendapatkan pekerjaan pasti. Karir yang dimilikinya mungkin dapat dipastikan arahnya.
Sementara bapak dan ibu menyesali ketidak cukupan hasil kerja keras mereka, bertengkar dan memaki, saling melempar martir karena karir. Nenek nampaknya sudah cukup bahagia dengan berapapun isi gelas plastiknya, cukuplah isi gelas plastik itu untuk membuatnya hadir lagi disana keesokkan harinya.
__________________________________________________________________________

Bintang-bintang di langit yang cerah malam ini membuat mataku tak bisa tertutup, memandang tinggi ke arah tak pasti, menyaksikan kembali betapa indahnya hidup yang telah ku lewati. Buat apa lagi aku mengeluh dan bersedih? perlukah aku menyesali ketiadaan biola listrik, kamera profesional, atau sepeda mahal?untuk apa aku terkubur dengan semua perkataan mereka tentang kejamnya dunia? perlukah aku menyesali indeks prestasi rata-rata yang kuperoleh? atau rendahnya pengunjung blog-ku? atau rendahnya apresiasi pembaca pada karya-karyaku? perlukah semua itu jika hidup dan kebahagiaan bisa ditemukan dalam sebuah gelas plastik?

__________________________________________________________________________

"Puaslah dengan apa yang kau punya;
Bersukacitalah dalam cara beradanya benda-benda.
Saat engkau tak merasa kekurangan,
seluruh dunia akan menjadi milikmu..
" - (Lao Tzu, Tao Te Ching)