Tampilkan postingan dengan label hujan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hujan. Tampilkan semua postingan

26/01/12

Kunang-kunang dalam botol tanpa tutup

Botol kaca, membiaskan semua cahaya yang menyapanya, menyisakan tanya pada refleksi mata yang menatapnya.
Botol kaca, tanpa tutup.
Tergeletak di padang rumput.
Hujan datang dan mengisinya dengan air.
Panas menyapanya dan menguapkan embun-embun.
Hujan turun lagi hanya untuk sekedar menyapa, mungkin dia bertanya apa masih ingat tentang hujan yang dulu?

Dan sebutir kunang-kunang datang padanya. Bersinar terang entah mengapa. Tidak menyapa namun tinggal bagaikan menunggu di bangku dengan penuh kecemasan. Terbang kian kemari di dalam botol tanpa tutup.

Tak ada yang memintanya tetap tinggal,
tak ada yang memintanya tetap bersinar,
Jika ada yang mencoba menangkapnya dengan menutup botol,
dia hanya akan mati.

13/01/12

Hujan Lagi (4)

Puisi ini tak ditulis saat hujan, puisi ini tak berima, terserah kau suka atau tidak, terserah aku suka atau tidak. Ini tak ada maknanya, ini tak ada artinya, dan bila kau cari kata dibaliknya, yang kau dapat bukan apa-apa, Ini tentang angka empat, ku renungkan dengan singkat, aku diam di tempat, mecari teman terdekat. Ini tentang hujan, lagi-lagi tentang hujan, kali ini tak berima, tak berirama. Jadi biar ku tulis sesukaku, seperti air hujan yang dengan sesuka hati membasahi bumi.

Catatan Kecil Untuk Hujan [5]

Semakin cepat aku melaju, semakin keras dia menyerbu. Semakin kuat kutahan, semakin jauh tertekan. Berharap bisa bertemu dan saling melindungi dari terpaannya. hujan.

Catatan Kecil Untuk Hujan [4]

Semua memang tentang hujan, cuma hujan. Dan bila kau tak senang mendengarnya, tutuplah telingamu. Dan bila kau tak senang mengenangnya, lupakanlah... Karena berjalan dalam basah ataupun berteduh adalah hal yang perlu kau pilih. Maka berjalanlah hingga mencapai tempat yang memang tujuanmu, Atau berteduhlah dan nikmati tiap tetesnya dari satu sudut bangku ini.

Catatan Kecil Untuk Hujan [3]

Karena hujan tidak melambangkan kesedihan, maka janganlah mencampur air matamu dengan tetesnya.

Catatan Kecil Untuk Hujan [2]

Inkonsistensi adalah pilihan. Seperti berteduh setelah basah kuyup, berlari meski hujan belum reda, ataupun merelakan payung tertiup angin. maka aku perlu memilih, biarlah genangan air yang memantulkan sempurna bulan di setiap langkahku.

12/01/12

Catatan Kecil Untuk Hujan [1]

Bila kau jadikan aku sebagai pendosa dalam tiap dosamu, sementara doaku adalah permintaan atas terkabulnya doaku... Biarkan aku berdoa di saat hujan menyamarkan tiap tetes air mata yang jatuh di sepanjang jalan yang kita kenang.

22/09/11

Hujan Lagi (3)

Aku berjalan dalam hujan setiap tetesnya begitu menyakitkan inikah luka peradaban? ku hanya bisa terus berjalan semua bukan mimpi bukan pula ilusi namun realita tak seperti ini kebenaran di malam hari dan kita sepakat dengan kata "terserah" dengan semua hembusan yang mendesah bagimu senyum hanya untuk seperempat sisanya tak kau berikan tempat tapi semua terhanyut sepi bagai puisi tanpa pembaca dan pendengar bagai bintang tanpa astronom maupun pelaut hanya sepi...