Karena kita berkata bahwa kita akan selalu ada ketika mereka membutuhkan
dan kita berkata bahwa kita adalah sosok tegar tak kenal gentar yang akan berjalan lurus menembus lorong gelap menuju masa depan yang tak pernah datang.
Karena kita berkata bahwa badai ini akan berlalu,
namun tak sepercik sinarpun menembus awan mendung ini,
karena sakitnya nyata.
Tampilkan postingan dengan label untuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label untuk. Tampilkan semua postingan
06/02/12
05/02/12
Catatan Rapuh #2
aku ingin lupa bahwa dia hanya seseorang yang ku temui di keramaian.
Aku ingin lupa bahwa itu bukanlah keramaian pertama yang ku temukan mengerumuni diriku, walaupun itu menjadi yang terasyik.
Seakan aku lupa bahwa keramaian itu ada tanpanya,
seakan aku akan terus meronta akan sepiku ketika dia tidak menyatakan kebersamaannya denganku.
Lalu aku berkata bahwa dialah pemegang hidupku.
hingga aku lelah dengan kesepian ini,
lalu orang lain datang menawarkan keramaian serupa,
lalu semua dimulai dari awal, meski tak sama.
ini bukan tentang rapuh, ini hanya tentang hidup dengan masa lalu yang ingin ku lupakan. Seakan aku lupa bahwa usiaku mungkin tinggal 2 tahun lagi.
Aku ingin lupa bahwa itu bukanlah keramaian pertama yang ku temukan mengerumuni diriku, walaupun itu menjadi yang terasyik.
Seakan aku lupa bahwa keramaian itu ada tanpanya,
seakan aku akan terus meronta akan sepiku ketika dia tidak menyatakan kebersamaannya denganku.
Lalu aku berkata bahwa dialah pemegang hidupku.
hingga aku lelah dengan kesepian ini,
lalu orang lain datang menawarkan keramaian serupa,
lalu semua dimulai dari awal, meski tak sama.
ini bukan tentang rapuh, ini hanya tentang hidup dengan masa lalu yang ingin ku lupakan. Seakan aku lupa bahwa usiaku mungkin tinggal 2 tahun lagi.
27/01/12
113 #1
Aku tak ingin berhenti menulis, bukan karena egois, hanya karena ingin.
Meski tak banyak lagi yang bisa ku tulis karena jagat rayaku yang menyempit.
Lalu ku biarkan tubuhku luluh lantah dan berserakan di Jalan Daeng Tata karena kereta api yang entah datang dari mana.
Lalu hujanpun turun, membasuh lukaku yang berwarna-warni, perih namun manis.
Dan malam pun datang, mempersilahkan bintang-bintang menyaksikan tubuhku yang mendingin.
Tapi kau pun terus mencoba menghangatkanku.
Hingga aku sanggup kembali menulis.
Keretaapipun datang, hantam tubuhku dan biarkan air mataku berserakan di Perempatan Jalan Daeng Tata, menunggu seseorang untuk memungutnya dan menyatukannya kembali. Membentuk kembali hatiku yang bagai lukisan tanpa warna.
Hujanpun turun, inginnya aku memeluknya, memeluk hujan. Namun hujan berteman dengan bulan, keduanya bagai mimpi yang setiap kali aku mencoba memeluknya, aku terbangun. Hanya luka kecil yang basah dan tak akan pernah kering meski tersiram ribuan panas.
Malam tak pernah lupa menutup pintu hari. Bintang-bintang tak terlalu sering nampak di kota ini, namun berbeda malam itu. Bintang nampak sempurna, sejenak meluapkan rinduku pada bulan. Mengalirkan darah dingin ke jantungku, membuatku mati beku.
Aku terus menulis, bukan untuk siapapun, bukan pula untuk diriku sendiri. Entah untuk apa aku menulis, aku hanya ingin.
Meskipun malam-malamku gelap dan menyesatkan.
Meskipun drama yang dimainkan tak semanis kenyataan.
Meskipun kata yang tersusun tak menyayat seperti yang kau inginkan.
Meski tak banyak lagi yang bisa ku tulis karena jagat rayaku yang menyempit.
Lalu ku biarkan tubuhku luluh lantah dan berserakan di Jalan Daeng Tata karena kereta api yang entah datang dari mana.
Lalu hujanpun turun, membasuh lukaku yang berwarna-warni, perih namun manis.
Dan malam pun datang, mempersilahkan bintang-bintang menyaksikan tubuhku yang mendingin.
Tapi kau pun terus mencoba menghangatkanku.
Hingga aku sanggup kembali menulis.
Keretaapipun datang, hantam tubuhku dan biarkan air mataku berserakan di Perempatan Jalan Daeng Tata, menunggu seseorang untuk memungutnya dan menyatukannya kembali. Membentuk kembali hatiku yang bagai lukisan tanpa warna.
Hujanpun turun, inginnya aku memeluknya, memeluk hujan. Namun hujan berteman dengan bulan, keduanya bagai mimpi yang setiap kali aku mencoba memeluknya, aku terbangun. Hanya luka kecil yang basah dan tak akan pernah kering meski tersiram ribuan panas.
Malam tak pernah lupa menutup pintu hari. Bintang-bintang tak terlalu sering nampak di kota ini, namun berbeda malam itu. Bintang nampak sempurna, sejenak meluapkan rinduku pada bulan. Mengalirkan darah dingin ke jantungku, membuatku mati beku.
Aku terus menulis, bukan untuk siapapun, bukan pula untuk diriku sendiri. Entah untuk apa aku menulis, aku hanya ingin.
Meskipun malam-malamku gelap dan menyesatkan.
Meskipun drama yang dimainkan tak semanis kenyataan.
Meskipun kata yang tersusun tak menyayat seperti yang kau inginkan.
26/01/12
Kunang-kunang dalam botol tanpa tutup
Botol kaca, membiaskan semua cahaya yang menyapanya, menyisakan tanya pada refleksi mata yang menatapnya.
Botol kaca, tanpa tutup.
Tergeletak di padang rumput.
Hujan datang dan mengisinya dengan air.
Panas menyapanya dan menguapkan embun-embun.
Hujan turun lagi hanya untuk sekedar menyapa, mungkin dia bertanya apa masih ingat tentang hujan yang dulu?
Dan sebutir kunang-kunang datang padanya. Bersinar terang entah mengapa. Tidak menyapa namun tinggal bagaikan menunggu di bangku dengan penuh kecemasan. Terbang kian kemari di dalam botol tanpa tutup.
Tak ada yang memintanya tetap tinggal,
tak ada yang memintanya tetap bersinar,
Jika ada yang mencoba menangkapnya dengan menutup botol,
dia hanya akan mati.
Botol kaca, tanpa tutup.
Tergeletak di padang rumput.
Hujan datang dan mengisinya dengan air.
Panas menyapanya dan menguapkan embun-embun.
Hujan turun lagi hanya untuk sekedar menyapa, mungkin dia bertanya apa masih ingat tentang hujan yang dulu?
Dan sebutir kunang-kunang datang padanya. Bersinar terang entah mengapa. Tidak menyapa namun tinggal bagaikan menunggu di bangku dengan penuh kecemasan. Terbang kian kemari di dalam botol tanpa tutup.
Tak ada yang memintanya tetap tinggal,
tak ada yang memintanya tetap bersinar,
Jika ada yang mencoba menangkapnya dengan menutup botol,
dia hanya akan mati.
27/05/11
Jatuh Pada Pandangan Pertama, Pasti Karena Tidak Hati-Hati
Cinta selalu muncul pada pandangan pertama, itu kata para pujangga itu.
mereka semua tidak melihat kebawah, itu sebabnya tak melihat lubang besar itu, jatuhlah mereka ke dalamnya.
Jatuh cinta pada pandangan pertama, cinta pada hatinya yang apa adanya.
Siapa yang mati rasa sekarang?
mereka semua tidak melihat kebawah, itu sebabnya tak melihat lubang besar itu, jatuhlah mereka ke dalamnya.
Jatuh cinta pada pandangan pertama, cinta pada hatinya yang apa adanya.
Siapa yang mati rasa sekarang?
Hanya Saja, Dia Tidak Begitu Pada Saya
Sikapnya manis, senyumnya nampak tulus, tapi sayangnya dia memang begitu pada semua orang.
Semua tidak terjadi karena saya spesial.
- masih bersambung
Semua tidak terjadi karena saya spesial.
- masih bersambung
28/09/09
Bukan Karena Kau Miskin, Namun Karena Kau Lacur
Kau berjalan dengan kaki kecilmu,
lelah jelas terlihat dari wajah tak cantikmu,
keringat bercucuran, keluar dari pori-pori kulit sawo sangat matangmu.
dan kau berada di ujung paling ujung
dari sebuah desa yang berada di ujung negeri paling ujung
dan gubuk lusuhmu berada di kompleks paling ujung
tepat di dekat pertigaan, tepatnya rumah paling ujung
kau di pinggiran,
kau mungkin miskin semiskin-miskinnya hingga tak bisa mengakses dunia maya
kau mungkin miskin sehingga bisa membaca tulisan ini
kau memang miskin, sangat miskin
maka kau berjalan di jalanan panas penuh debu,
dengan perut yang tak kenyang dengan mie pangsit
dengan dosa yang kau buat selama kau merasa semakin baik
dan kau jual dirimu,
kau gadaikan jiwamu,
kau diskon harga dirimu,
hingga semua habis terjual dan kau bukan apa-apa.
kami membencimu bukan karena kau miskin,
namun karena kau lacur
lelah jelas terlihat dari wajah tak cantikmu,
keringat bercucuran, keluar dari pori-pori kulit sawo sangat matangmu.
dan kau berada di ujung paling ujung
dari sebuah desa yang berada di ujung negeri paling ujung
dan gubuk lusuhmu berada di kompleks paling ujung
tepat di dekat pertigaan, tepatnya rumah paling ujung
kau di pinggiran,
kau mungkin miskin semiskin-miskinnya hingga tak bisa mengakses dunia maya
kau mungkin miskin sehingga bisa membaca tulisan ini
kau memang miskin, sangat miskin
maka kau berjalan di jalanan panas penuh debu,
dengan perut yang tak kenyang dengan mie pangsit
dengan dosa yang kau buat selama kau merasa semakin baik
dan kau jual dirimu,
kau gadaikan jiwamu,
kau diskon harga dirimu,
hingga semua habis terjual dan kau bukan apa-apa.
kami membencimu bukan karena kau miskin,
namun karena kau lacur
27/07/09
Mengukir Kenangan
Bagaikan daun-daun kering
jatuh dan terbawa sungai bening
tak satupun tersisa di ranting-ranting
hanya pucuk-pucuk hijau kuning
bagaikan tembok kuat di tepi tebing
dibangun dengan air mata dan kerut kening
akan runtuh menjadi puing-puing
menyatu dengan hening
Dan semua umat manusia
Tak akan ada yang tersisa
semua akan binasa
tinggal kenangan dan dosa
Hari ini aku berdiri,
di sini, di satu sisi bumi,
mengukir dosa dalam kemenangan
mengukir kenangan
jatuh dan terbawa sungai bening
tak satupun tersisa di ranting-ranting
hanya pucuk-pucuk hijau kuning
bagaikan tembok kuat di tepi tebing
dibangun dengan air mata dan kerut kening
akan runtuh menjadi puing-puing
menyatu dengan hening
Dan semua umat manusia
Tak akan ada yang tersisa
semua akan binasa
tinggal kenangan dan dosa
Hari ini aku berdiri,
di sini, di satu sisi bumi,
mengukir dosa dalam kemenangan
mengukir kenangan
Metamorfosis Rasa Rindu
Lama tak bertemu
Tebarkan bibit rindu
Buahkan pilu
Yang merayap perlahan menguasai kalbu
Ku tahu kau tahu
Dan kau tahu itu
Tapi kau biarkan bagai angin lalu
melewati jalanan terbangkan debu
Bagai nyamuk yang mengganggu
untukmu begitulah aku
kau singkirkan dengan tanganmu
lalu kau buang semaumu
betapa tebal rinduku
Setebal gunung beribu-ribu
Rindu itu kini berubah menjadi batu
dan ku harap menghantam kepalamu!!!
Tebarkan bibit rindu
Buahkan pilu
Yang merayap perlahan menguasai kalbu
Ku tahu kau tahu
Dan kau tahu itu
Tapi kau biarkan bagai angin lalu
melewati jalanan terbangkan debu
Bagai nyamuk yang mengganggu
untukmu begitulah aku
kau singkirkan dengan tanganmu
lalu kau buang semaumu
betapa tebal rinduku
Setebal gunung beribu-ribu
Rindu itu kini berubah menjadi batu
dan ku harap menghantam kepalamu!!!
Langganan:
Postingan (Atom)