17/08/14

Riansari

Semalam aku bermimpi,
Bertemu seorang bidadari,
Wajahnya tak rupawan,
Sayapnya dari kertas,
Sepatunya dari plastik.

Dia tidak bisa terbang,
Suaranya sedikit sumbang,
Namun matanya menatapku tanpa bimbang,
Tegaskan ribuan kasih dan jutaan sayang.

Aku tahu bidadari itu adalah kamu,
Jarum jam yang bergerak hanya untukku,
Saling merindu pada masa lalu,
Itu cukup untuk membuat indah satu mimpiku.

Namun pagi ini, selamat tinggal,
Karena kamu dan aku bermain sandiwara,
Sandiwara sempurna, dengan naskah yang salah.
Dan tak semua mimpi dapat terwujud.

17/07/14

Neraka dalam Kalbu

Mencari tempat sempurna
Tak semudah menunjuk bintang di angkasa
Karena seisi dunia penuh duka
Umat manusia dalam sengsara

Ketika hidup telah berakhir
Akankah derita ini menyingkir?
Akankah ada neraka?
Ataukah ini samsara?

Mencari tempat sempurna
Tak semudah mencari jarum di samudera
Karena sejarah goreskan luka
Rasa sakit yang menyiksa Jalur Gaza

Ketika hidup berakhir
Usaikah suratan takdir?
Ataukah semua kembali
Dalam putaran reinkarnasi?

Nirwana tak punya peta,
Tak seorangpun ku kenal disana,
Ku dengar memang tak begitu istimewa,
Adam pun merasa sepi di surga.

Ketika dunia berakhir
Akankah sepi ini terobati?

21/01/14

Tak Jua Reda

Apa yang lebih manis dari menunggu hujan reda bersama?
Akankah hujan ini reda? akan kah kita selalu bersama?
Masa depan itu penuh tanda tanya,
hanya perlu keberanian untuk menjalaninya.

"Apa yang manis dari menunggu hujan reda bersama?
Hujan tak juga reda, harusnya kita tak lagi bersama"
Perkataanmu dingin seperti angin Januari.
Kau tak melihat jalan di depan sana dan kau belok ke kiri.

Bagimu sebuah kepastian lebih manis dari menunggu hujan reda bersama,
kau takut akan gelap dan pergi menuju terang sebelum petang menjelang,
hujan bukan lagi alasan untuk menahanmu,
basah... bukan lagi masalah.

Apa yang lebih dingin dari menatapi hujan sendiri?
hujan yang tak kunjung berhenti,
akankah dia berakhir? akankah hangat menjemputku?
Bagiku sudah tak ada artinya lagi.

28/09/13

Selepas Hujan

Dia adalah rotasi,
berlalu bersama senja
Namun kau ingin disini,
hingga habis masa muda

Itu mimpi, itu cita,
dengannya kau bahagia
namun masa harus berganti
seperti sepatumu yang penuh duri

Dia adalah bumi,
wangi tanah selepas hujan,
peluh yang warnai memori,
namun kini di seberang lautan

itu mimpi, sebuah cerita,
tanpanya dia tak ada
namun kau rindukan hari-hari
dan berharap semua tetap begini

Lepaslah sepatumu dan seberangi laut biru
Tataplah langit bertabur pasir
Berlarilah denganku di Samosir

Lebarkan lenganmu dan lompati Teluk Bone
kejarlah bintang yang berjatuhan
arungi laut di ujung hujan

28/06/13

Pecundang, Pemenang, dan Pemuda Pancasila (#2)

Aku bukan pengecut,
aku hanya pecundang,
aku tak pernah takut
pada masa depan yang menghadang

Aku bukan pengecut,
aku cuma pembohong,
nyaliku tak ciut,
pikiranku hanya kosong

Aku adalah penerus langkah bangsa
berjalan tanpa putus asa,
mengejar metor yang menari di angkasa
terbang bagai kawanan angsa

Aku bersayap bagai Garuda
berdiri tegak bagai tiang bendera
tak pernah gentar bagai pahlawan
meski tak punya mimpi tuk diperjuangkan