07/02/17

Tak mengapa kamu menangis,
pikirmu kaulah yang paling  berhak mengais,
Kau pikir hanya hatimu yang teriris,
Kau pikir kisah hidupmu yang paling miris.

Tak mengapa kau memaki,
toh aku ini lelaki, tak punya harga diri,
Kau injak saja seperti tai,
lalu kau bersihkan di tepi lantai.

Tak mengapa kamu merengek,
wajahmu tak akan pernah jadi jelek,
biar mataku yang bengkak penuh belek
setelah kau paksa mengawasi telek

Kami memang paling benar,
Di bawah kakimu bumi berputar,
Sudah-sudah tidur yang pulas,
biar besok pagi aku pergi dan kamu puas.

05/08/15

Mimpi Buruk, Sebuah Puisi

Mimpi buruk, ciptaan Tuhan
merebut malam dari sinar bulan,
Kuasanya menjalar dan merasuk melalui setiap lubang pori,
ngeri.

Mimpi buruk dan kerinduan,
Tentang masa lalu, takdir, dan Tuhan,
Katamu "ada hikmah di balik semua yang terjadi,"
Namun tetap saja semua jadi sesal yang hadir dalam mimpi.

Mimpi buruk tentang pelangi,
Segelap mendung yang berwarna-warni,
Katamu "indahnya ciptaan Tuhan"
Tapi tetap tak bisa kau hargai perbedaan.

Mimpi buruk tentang jalan ini,
Jalan lurus untuk semua negeri,
Satu jalan dan satu arah,
Tak jarang bersimbah darah.

Mimpi buruk, sebuah puisi.
Tak berima, tak bermakna.
Hanya untaian kata penuh kegalauan.
Tak usah dihiraukan...

09/04/15

Sepatu Karet

Entah sudah kali keberapa, tak terhitung lagi dengan jari tangan.
Kakimu kau langkahkan, dengan berat, dengan kesakitan.
Sepatu karet yang kau kenakan jelas-jelas barang murahan.

Langkahmu terseret,
"Sreeet, sreet, sreet," bunyinya seperti biola.
Ribuan semut berlari sambil menutup telinga.
Burung-burung tinggalkan sarangnya.

Langkah kakimu bagai sampah,
Merusak serakan debu yang indah,
Garis lurus yang tak punya arah.

Ketika kamu sekolah, sepatumu lebih bagus.
Kurikulum memaksamu berdandan yang rapi.
Tapi kamu selalu lupa; hari Senin bawa topi.
Upacara pagi itu membuatmu hangus.
Toh, akhirnya kamu juga lulus.

Minggu lalu kamu ke mall.
Terpajang sepatu-sepatu mahal.
Mengenakannya? Silahkan berkhayal.
Uang di dompetmu hanya cukup untuk bayar tarif parkir yang tidak masuk akal.

Kamu pun ke Eropa,
Nyanyikan lagu tentang cinta.
Sepatumu sepatu kaca,
Namamu Cinderela,
Cintami Della Renata ditambah la.

Yang Terhormat, sepatu karet.
Jangan pergi jauh.

18/08/14

Arti

Aku ragu dengan langkahku,
Akan kemana?
Dari mana?
Mengapa?
Untuk apa?
Satu yang pasti, aku melangkah.
____

Sungai tercipta untuk mengalir,
Menuntun hulu ke hilir,
Membawa air untuk para musafir,
Dan menenggelamkan kota yang kafir.

Pelangi tercipta untuk warnai awan,
Menghias langit selepas hujan,
Menghibur jiwa yang sedang susah,
Hati yang resah menjadi cerah.

Adam tercipta untuk sebuah dosa,
Anak cucunya berlari mengejar surga,
Tempat yang lebih tinggi dari matahari,
Lebih dalam dari inti bumi.

Aku tercipta untuk melangkah
Menapaki luasnya muka bumi,
Kemana?
Untuk apa?
Sampai kapan?
Satu yang pasti, aku berjalan,

17/08/14

Riansari

Semalam aku bermimpi,
Bertemu seorang bidadari,
Wajahnya tak rupawan,
Sayapnya dari kertas,
Sepatunya dari plastik.

Dia tidak bisa terbang,
Suaranya sedikit sumbang,
Namun matanya menatapku tanpa bimbang,
Tegaskan ribuan kasih dan jutaan sayang.

Aku tahu bidadari itu adalah kamu,
Jarum jam yang bergerak hanya untukku,
Saling merindu pada masa lalu,
Itu cukup untuk membuat indah satu mimpiku.

Namun pagi ini, selamat tinggal,
Karena kamu dan aku bermain sandiwara,
Sandiwara sempurna, dengan naskah yang salah.
Dan tak semua mimpi dapat terwujud.