09/04/15

Sepatu Karet

Entah sudah kali keberapa, tak terhitung lagi dengan jari tangan.
Kakimu kau langkahkan, dengan berat, dengan kesakitan.
Sepatu karet yang kau kenakan jelas-jelas barang murahan.

Langkahmu terseret,
"Sreeet, sreet, sreet," bunyinya seperti biola.
Ribuan semut berlari sambil menutup telinga.
Burung-burung tinggalkan sarangnya.

Langkah kakimu bagai sampah,
Merusak serakan debu yang indah,
Garis lurus yang tak punya arah.

Ketika kamu sekolah, sepatumu lebih bagus.
Kurikulum memaksamu berdandan yang rapi.
Tapi kamu selalu lupa; hari Senin bawa topi.
Upacara pagi itu membuatmu hangus.
Toh, akhirnya kamu juga lulus.

Minggu lalu kamu ke mall.
Terpajang sepatu-sepatu mahal.
Mengenakannya? Silahkan berkhayal.
Uang di dompetmu hanya cukup untuk bayar tarif parkir yang tidak masuk akal.

Kamu pun ke Eropa,
Nyanyikan lagu tentang cinta.
Sepatumu sepatu kaca,
Namamu Cinderela,
Cintami Della Renata ditambah la.

Yang Terhormat, sepatu karet.
Jangan pergi jauh.

18/08/14

Arti

Aku ragu dengan langkahku,
Akan kemana?
Dari mana?
Mengapa?
Untuk apa?
Satu yang pasti, aku melangkah.
____

Sungai tercipta untuk mengalir,
Menuntun hulu ke hilir,
Membawa air untuk para musafir,
Dan menenggelamkan kota yang kafir.

Pelangi tercipta untuk warnai awan,
Menghias langit selepas hujan,
Menghibur jiwa yang sedang susah,
Hati yang resah menjadi cerah.

Adam tercipta untuk sebuah dosa,
Anak cucunya berlari mengejar surga,
Tempat yang lebih tinggi dari matahari,
Lebih dalam dari inti bumi.

Aku tercipta untuk melangkah
Menapaki luasnya muka bumi,
Kemana?
Untuk apa?
Sampai kapan?
Satu yang pasti, aku berjalan,

17/08/14

Riansari

Semalam aku bermimpi,
Bertemu seorang bidadari,
Wajahnya tak rupawan,
Sayapnya dari kertas,
Sepatunya dari plastik.

Dia tidak bisa terbang,
Suaranya sedikit sumbang,
Namun matanya menatapku tanpa bimbang,
Tegaskan ribuan kasih dan jutaan sayang.

Aku tahu bidadari itu adalah kamu,
Jarum jam yang bergerak hanya untukku,
Saling merindu pada masa lalu,
Itu cukup untuk membuat indah satu mimpiku.

Namun pagi ini, selamat tinggal,
Karena kamu dan aku bermain sandiwara,
Sandiwara sempurna, dengan naskah yang salah.
Dan tak semua mimpi dapat terwujud.

17/07/14

Neraka dalam Kalbu

Mencari tempat sempurna
Tak semudah menunjuk bintang di angkasa
Karena seisi dunia penuh duka
Umat manusia dalam sengsara

Ketika hidup telah berakhir
Akankah derita ini menyingkir?
Akankah ada neraka?
Ataukah ini samsara?

Mencari tempat sempurna
Tak semudah mencari jarum di samudera
Karena sejarah goreskan luka
Rasa sakit yang menyiksa Jalur Gaza

Ketika hidup berakhir
Usaikah suratan takdir?
Ataukah semua kembali
Dalam putaran reinkarnasi?

Nirwana tak punya peta,
Tak seorangpun ku kenal disana,
Ku dengar memang tak begitu istimewa,
Adam pun merasa sepi di surga.

Ketika dunia berakhir
Akankah sepi ini terobati?

21/01/14

Tak Jua Reda

Apa yang lebih manis dari menunggu hujan reda bersama?
Akankah hujan ini reda? akan kah kita selalu bersama?
Masa depan itu penuh tanda tanya,
hanya perlu keberanian untuk menjalaninya.

"Apa yang manis dari menunggu hujan reda bersama?
Hujan tak juga reda, harusnya kita tak lagi bersama"
Perkataanmu dingin seperti angin Januari.
Kau tak melihat jalan di depan sana dan kau belok ke kiri.

Bagimu sebuah kepastian lebih manis dari menunggu hujan reda bersama,
kau takut akan gelap dan pergi menuju terang sebelum petang menjelang,
hujan bukan lagi alasan untuk menahanmu,
basah... bukan lagi masalah.

Apa yang lebih dingin dari menatapi hujan sendiri?
hujan yang tak kunjung berhenti,
akankah dia berakhir? akankah hangat menjemputku?
Bagiku sudah tak ada artinya lagi.