Yah, mungkin orang-orang tahu siapa dia, mungkin juga tidak, aku lebih berharap anda tidak mengenalnya, karena aku akan menceritakan sisi lain dan kematian sisi lamanya.
Sepanjang siang dia terus berjalan, terus, lurus, melewati terik yang memanaskan debu-debu yang berkilau dan menyejukkan mata. Terkadang teman-temannya ada bersamanya, tapi itu tidak sering, aku lebih sering melihatnya berjalan sendirian, terus berjalan, hingga perempatan jalan.
Suatu hari, aku berdiri dengan kakiku di jalan yang sama dengannya. Kemudian, kakiku harus melangkah, dengan tujuan yang tak jauh dari tujuannya. Dan ragaku berada pada siang yang sama dengan siangnya. Jadi, aku putuskan untuk menemaninya, mungkin juga aku membuatnya menemaniku, atau mungkin saja kami tidak saling menemani, hanya berjalan di jalan yang sama dengan arah yang sama.
Sepanjang tahun sudah kami lewati dengan siang yang panas dan berdebu di jalan itu. Masih terus bertahan di jalan kecil yang tak cukup panjang untuk mencapai ujung samudera. Kita bersama, hanya bersama, mungkin juga tidak bersama.
Dan waktu berjalan, semua orang berubah. Aku coba untuk tetap menjadi aku, tapi semua orang berubah, dan aku juga dianggapnya berubah. Aku terjebak dalam kurungan waktu, dimana aku tak bisa terus berada dalam siang di jalan yang sama dengannya. Hanya bisa relakan ku berjalan sendiri, dia berjalan sendiri, terus berjalan, hingga perempatan jalan tempat kita berpisah.
Hingga pada suatu sore, dengan kecepatan cahaya. berhiaskan debu, ditemani terik matahari, aku melangkah di jalan yang biasa kami lewati berdua. Tapi kini aku sendiri. Di tengah perjalanan, aku bertemu dengannya, betapa senang semestinya hatiku, tapi tidak, dia tidak sendiri, dia bersama sesosok pria yang berjalan bagai wanita dengan berlindung pada sebuah payung dari terik matahari. Pria yang aku yakin akan mati.
Ada apa denganku? seharusnya aku senang melihat dia memiliki seseorang yang lain, orang yang sudi bersama dengannya.
Tapi kenyataannya tidak, aku tidak senang, aku benci, apakah aku cemburu? ku harap tidak, tapi semua orang menganggapku begitu.
Ku hanya bisa relakan bila dia menemukan kebahagiaannya dengan mahluk yang takut matahari itu.
Tapi sayang, dia bagai gitar yang kehilangan senar 3 dan 4nya, dia merubah nadanya. Segalanya berubah. Tak ada lagi melodi menghiasi siang di jalan yang biasa kami lewati berdua, tak ada lagi senyum dan salam perpisahan "sampai jumpa" di perempatan jalan tempat kami berpisah.
Dia berubah, dan dia anggap aku yang berubah. Saat itu aku yakin, dia sudah mati, tapi aku salah, masih tersisa dirinya dalam tubuh itu, masih ada langkah-langkah sendunya ke arah yang sama denganku.
Ku coba merangkai kembali langkah-langkahku agar sejalan dengannya, tapi nampaknya tak bisa, langkahnya tak sama lagi dengan yang dulu, kini dia melangkah meninggalkanku.
Baginya, aku tak lagi dibutuhkan, dan untuk itu, aku sebaiknya dibuang.
Dia hanya menginginkanku ada saat dia membutuhkanku, mungkin untuk membawakan payung meneduhinya disaat dia membawakan payung untuk pria kegelapan itu.
Dan kini, di perempatan jalan, kami benar-benar berpisah, dia tak ucapkan "sampai jumpa", dia ucapkan "selamat tinggal", mungkin untuk selamanya, dan kali ini, aku yakin bahwa aku benar saat aku meyakini bahwa dia sudah mati. Mati tertabrak kereta api di perempatan jalan.
Untuk kematiannya, dia menginginkan aku berlutut penuh penyesalan, memohon maaf, meminta ampun, atas kesalahan yang segalanya adalah karena dia, haruskah?
17/05/09
Sebelum Malam
Tak dapat ku tahan sang mentari
jika dia memang harus pergi
ku biarkan dia sinari
sisi lain dari bumi
Langit kuning sore ini
adalah getaran nurani
adalah hasrat tiap insani
ketika hari tak lagi dini
dan manusia bermimpi
mengisi hari-hari
mulai dari dinginnya pagi
hingga mereka mati
biarkan mereka berhamburan
biarkan mereka berlumuran
darah hingga pukul delapan
sebelum hari berganti malam
jika dia memang harus pergi
ku biarkan dia sinari
sisi lain dari bumi
Langit kuning sore ini
adalah getaran nurani
adalah hasrat tiap insani
ketika hari tak lagi dini
dan manusia bermimpi
mengisi hari-hari
mulai dari dinginnya pagi
hingga mereka mati
biarkan mereka berhamburan
biarkan mereka berlumuran
darah hingga pukul delapan
sebelum hari berganti malam
Senja nan Elok di Hari Rabu 2
Suara ombak bergemuru halus,
Angin yang berhebus,
Bagai mendengar petikan gambus,
Menyejukkan kerongkongan yang haus.....
Tak juga hilang ingatanku,
Kala jari-jari mu menyentuh ragaku,
Hendak terucap kata dari dalam kalbu,
Namun lidahku tertahan kaku..
Nyanyian sumbang memecahkan angan,
Berlalu kita tanpa hambatan,
Menyisiri pantai yang kian menawan,
Laksana gagak yang tertawan.
Sore itu menemaniku bermimpi,
Andai kubisa bermain kembang api,
Menunggu terbitnya matahari.
Melihatmu tetap berada disisi..
Angin yang berhebus,
Bagai mendengar petikan gambus,
Menyejukkan kerongkongan yang haus.....
Tak juga hilang ingatanku,
Kala jari-jari mu menyentuh ragaku,
Hendak terucap kata dari dalam kalbu,
Namun lidahku tertahan kaku..
Nyanyian sumbang memecahkan angan,
Berlalu kita tanpa hambatan,
Menyisiri pantai yang kian menawan,
Laksana gagak yang tertawan.
Sore itu menemaniku bermimpi,
Andai kubisa bermain kembang api,
Menunggu terbitnya matahari.
Melihatmu tetap berada disisi..
Senja nan Elok di Hari Rabu
Suara ombak yang bergemuruh halus
Iringi angin yang berhembus
Entah kemana tujuannya
Tak peduli dan tak ingin ku bertanya
Tak juga hilang dari ingatanku
seluruh kata dan tawa
semua di antara kita
Semua yang warnai sore itu
Petikan dawai gitar penyamun
nyanyian sumbang yang mengalun
merampok dengan cara yang santun
mengganggu kita yang sedang melamun
Anak-anak kecil menjajakkan makanan
anak-anak yang terlupakan
selalu tertawa penuh harapan
tapi sangat mengganggu kemesraan
namun senja yang elok di sebelah barat
ibarat selamat tinggal yang tersirat
Adzan Maghrib menutup hari
berharap esok bertemu lagi
07/05/09
Terimakasih untuk Anggie
langkahku terseret menuju keramaian di alun-alun kota tua.. temanku menyeret tanganku ke suatu sudut dari alun-alun itu, di sudut itu telah menunggu dua orang perempuan yang sedang berbicara mengenai hal yang tak kudengar dengan jelas, yang ku bisa hanya melihat tawa di wajah mereka.temanku lalu berputar dari seorang penarik yang berada di depan, menjadi seorang pendorong yang ada di belakang, dengan target yang sama, yaitu aku. dia kini mendorongku. tawa geli dengan arti yang tidak bisa kupahami memancar darinya. dia mendorongku hingga berada tepat di depan salah seorang dari perempuan yang berdiri di suatu sudut alun-alun tersebut. dia kemudian menarik tangan perempuan yang satunya lagi kemudian pergi meninggalkanku dengan tertawa yang sepertinya mencemooh.kini hanya dengan perempuan itu dan rumput hijau yang kering dari alun-alun. perempuan itu bernama Anggie, aku mengenalnya, walau tidak begitu dekat dan karab, tapi aku mengenalnya. dari wajahnya hanya tersirat rasa malu dan selain itu tak dapat ku artikan apa itu. suara bising alun-alun dari percakapan orang-orang, hembusan angin, kicauan burung, hentakan kaki kuda, putaran roda, suara mesin, hingga bisikan rerumputan kering alun-alun menggaung di telingaku, begitu keras, begitu jelas. hingga aku tak bisa mendengar apa yang seharusnya ku dengar.Anggie berkata sesuatu padaku. pandangan matanya sedikit memancarkan rasa benci, entah pada siapa, aku sangat berharap bukan padaku. bibirnya yang mungil bergerak halus dengan irama yang tak juga bisa kuterjemahkan. apa yang dikatakannyapun tak dapat ku dengar, semua yang ku dengar hanyalah bisikan rerumputan, dan segala yang di atasnya, kecuali dia. aku sungguh tak mengerti apa yang dia katakan, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, dia hanya terus bicara dan aku tetap tak bisa mendengarnya.kata-katanya berhenti, kini tatap matanya semakin menunjukkan kebencian, sungguh aku semakin merasa bahwa kebenciannya ditujukan padaku. rasa takut akan rasa bencinya itu membuatku sungguh ingin berlari jauh darinya, bukan karena takut disakiti, hanya saja aku tak tega melihat kebencian sebesar itu daru dia untukku. aku sungguh ingin berlari, namun kaki ini bagaikan menempel di tanah, bagai di sekap oleh rumput-rumput kering alun-alun yang berada di bawah kakiku.entah mengapa, tubuhku tak ada dalam kendaliku. bahkan aku sampai berani menyentuh jemarinya dengan jemariku, walaupun hanya sentuhan kecil yang bagaikan tetesan air bagi telaga biru.setelah menyentuh jemarinya, bibirku bergerak, katakan sesuatu, pastinya padanya. lancar yang ku katakan, tapi tetap saja kali ini aku tak bisa mendengarnya. yang terdengar hanyalah detak jantungku yang tak karuan, bagaikan mengiringi syair-syair yang dilantunkan rerumputan kering.aku terus berkata, tanpa izin dan perintahku, aku terus saja berkata.nampaknya Anggie mengerti apa yang ku katakan. diapun tersenyum, ada malu dalam senyumnya. benci dalam tatapannyapun sedikit berkurang. itu membuatku lega. dan dia kembali berkata, aku tak bisa mendengarnya namun bisa membalasnya dan membuat dia mengerti dan membuatnya tersenyum dan membuat kebencian pada pandangannya berkurang dan membuatku lega. dan dia terus berkata.maka aku terlibat dalam dialog tanpa sepengtahuanku. aku hanya sebagai pelaku dalam cerita yang tak tahu jalan cerita, hanya bisa melihat, melihat rerumputan kering yang memenuhi seluruh sudut alun-alun, melihat burung-burung berdansa di udara, melihat awan mengukir makna di langit yang tak bosannya disebut biru, dan melihat senyumnya.tak ada artinya semua ketulian ini jika aku masih bisa melihatnya tersenyum, dan masih bisa mengetahui bahwa dia baik-baik saja, mungkin jauh lebih baik daripada waktu aku mendengar perkataannya.setelah senyumnya berubah menjadi tawa yang bahagia yang semakin lebar, kakiku mulai berjalan sendiri, diiringi langkah kakinya, mengitari alun-alun yang dihijaukan oleh rumput kering.dan kami berdua berjalan, terus berjalan, mengitari seluruh ruang tak terbatas beratapkan langit, di atas waktu yang berjalan. dan waktu memang terus berjalan hingga akhirnya terbitlah malam. dan tak bisa lagi ku tahan langkah kakinya yang berpamitan di bawah bulan.dan memang ku tak punya kuasa tuk paksa dia terpenjara dalam sebuah adegan sandiwara hidup ini.dan datanglah seorang pria yang mungkin berusia tigakali seluruh hidupku, mungkin dia ayahnya.pria itu menjemputnya untuk memastikan dia segera pulang dengan aman.Anggie menatapku sejenak, dia bisikkan sesuatu padaku yang pastinya tak dapat ku dengar, aku hanya tersenyum padanya, dan pada pria itu.dia segera melaju. meninggalkanku. tapi masih terasa hadirnya. masih terasa getaran-getaran yang muncul karenanya.sungguh dia masih nyata.Terimakasih untuk Anggie.
Langganan:
Komentar (Atom)