07/04/10
05/04/10
Surat Buat Perahu Layar
Merpati mengejar perahu layar, membawakan sepucuk surat dari jauh untuknya.
Perahu layar terus melaju, di tengah samudra.
tujuannya jelas, daratan, tak peduli daratan mana, hanya ingin mendarat, itu saja yang dipikirkannya.
Telah muak dia lihat birunya langit terpantul di air samudra yang kemudian juga membiru.
dia selalu mengharapkan badai datang padanya, badai yang menerbangkan lautan, menggoyah samudra, dan meniup keras layarnya melaju hingga ujung biru.
terkabullah doanya, badai datang, dan diapun tertiup kencang, jauh ke ujung saujana.
arah tak pernah menjadi masalah, lautan biru harus berlalu, daratan harus didapatkan.
maka tibalah dia pada bumi kosong dimana dia hilang untuk selamanya.
merpatipun tak dapat menemukannya, hanya melempar surat pada mayat-mayat awak kapal.
pada surat itu tertulis
"jangan tertiup angin jika kau tak tahu arahnya"
Perahu layar terus melaju, di tengah samudra.
tujuannya jelas, daratan, tak peduli daratan mana, hanya ingin mendarat, itu saja yang dipikirkannya.
Telah muak dia lihat birunya langit terpantul di air samudra yang kemudian juga membiru.
dia selalu mengharapkan badai datang padanya, badai yang menerbangkan lautan, menggoyah samudra, dan meniup keras layarnya melaju hingga ujung biru.
terkabullah doanya, badai datang, dan diapun tertiup kencang, jauh ke ujung saujana.
arah tak pernah menjadi masalah, lautan biru harus berlalu, daratan harus didapatkan.
maka tibalah dia pada bumi kosong dimana dia hilang untuk selamanya.
merpatipun tak dapat menemukannya, hanya melempar surat pada mayat-mayat awak kapal.
pada surat itu tertulis
"jangan tertiup angin jika kau tak tahu arahnya"
27/03/10
cuma mimpi kah?
Bintang-bintang di kota yang benderang,
dengan pelukan hangatnya udara pagi,
dan waktu yang berlalu,
dan semua dusta, dan semua luka,
tak peduli, semuanya terjadi,
udara pagi dan bintang-bintang yang jadi saksi,.
dengan pelukan hangatnya udara pagi,
dan waktu yang berlalu,
dan semua dusta, dan semua luka,
tak peduli, semuanya terjadi,
udara pagi dan bintang-bintang yang jadi saksi,.
Bunga untuk buaya
Sekuntum bunga di taman
tak seindah dalam khayalan
wanginya tak memabukkan
entah mengapa jadi rebutan
kumbang dan kupu-kupu
berdatangan dari segala penjuru
kepada bunga yang hanya satu
yang selalu jadi yang tertuju
maka datanglah padanya
seorang pangeran berkuda
rupawan benar parasnya
melaju dan memetik sang bunga
di seberang sungai istananya
tak ada jembatan kesana
terus dia laju kudanya
hingga mereka ditelan buaya
tak seindah dalam khayalan
wanginya tak memabukkan
entah mengapa jadi rebutan
kumbang dan kupu-kupu
berdatangan dari segala penjuru
kepada bunga yang hanya satu
yang selalu jadi yang tertuju
maka datanglah padanya
seorang pangeran berkuda
rupawan benar parasnya
melaju dan memetik sang bunga
di seberang sungai istananya
tak ada jembatan kesana
terus dia laju kudanya
hingga mereka ditelan buaya
Bulan minggu ini
Minggu malam, kau duduk di teras
Matamu tak hentinya menatap ke atas
menikmati bulan di langit tanpa batas
Malam yang sama, kau masih disana
dan kau sadari kedatangannya
mengetuk pintumu
dan kau buka pagar
dan kalian bertemu
bersama udara malam yang segar
dia datang tak lama
meminta sesuatu dan itu saja
kau berikan semuanya
diapun pergi tanpa kecewa
Bulan minggu ini menjadi saksi
apa yang terjadi dan apa yang tersembunyi
jangan menangis dan jangan tersenyum
ini bukan cerita mesum
Matamu tak hentinya menatap ke atas
menikmati bulan di langit tanpa batas
Malam yang sama, kau masih disana
dan kau sadari kedatangannya
mengetuk pintumu
dan kau buka pagar
dan kalian bertemu
bersama udara malam yang segar
dia datang tak lama
meminta sesuatu dan itu saja
kau berikan semuanya
diapun pergi tanpa kecewa
Bulan minggu ini menjadi saksi
apa yang terjadi dan apa yang tersembunyi
jangan menangis dan jangan tersenyum
ini bukan cerita mesum
Langganan:
Komentar (Atom)