28/09/09

Bukan Karena Kau Miskin, Namun Karena Kau Lacur

Kau berjalan dengan kaki kecilmu,
lelah jelas terlihat dari wajah tak cantikmu,
keringat bercucuran, keluar dari pori-pori kulit sawo sangat matangmu.

dan kau berada di ujung paling ujung
dari sebuah desa yang berada di ujung negeri paling ujung
dan gubuk lusuhmu berada di kompleks paling ujung
tepat di dekat pertigaan, tepatnya rumah paling ujung

kau di pinggiran,
kau mungkin miskin semiskin-miskinnya hingga tak bisa mengakses dunia maya
kau mungkin miskin sehingga bisa membaca tulisan ini
kau memang miskin, sangat miskin

maka kau berjalan di jalanan panas penuh debu,
dengan perut yang tak kenyang dengan mie pangsit
dengan dosa yang kau buat selama kau merasa semakin baik

dan kau jual dirimu,
kau gadaikan jiwamu,
kau diskon harga dirimu,
hingga semua habis terjual dan kau bukan apa-apa.

kami membencimu bukan karena kau miskin,
namun karena kau lacur

16/08/09

aih dan ih?

"Merdeka!!!"
"hari ini kita Merdeka!!!"
teriakan itu bergema di sepanjang jalan,
di setiap sudut kota, di setiap ruang hampa,

"merdeka!!!"
setiap mulut dan tenggorokan serukan "merdeka!!!"
hari ini menggema, pagi hingga malam...

masih menggema,
orang tua berjalan menggandeng cucunya yang baru bisa berjalan,
bersama menuju kaki tiang bendera,
terjatuh, bangun, berdiri, terjatuh lagi dan merangkak,
agar mereka dapat lihat kibarnya, bebas, menusuk labgit tanpa batas,
dan agar mereka bisa berteriak dengan keras
"merdeka!!!"

bahkan pemulung membuang seluruh harta yang dia pungut, untuk semata-mata bisa dirikan sebuah tiang bambu dan bendera yang denga bangga dia kibarkan di atas tanah yang kakeknya pernah bilang
"merdeka!!!"

tapi aku idiot,
hanya bisa gambarkan aih dan ih,
hanya bisa sebut dua warna untuk lambangkan satu bangsa, satu nusa, yang susah payah baru dapat disebut dengan satu kata dalam satu bahasa "merdeka!!!"

dan orang-orang yang lebih bodoh dari aku, mengajukan satu pertanyaan yang lebih pintar dari pertanyaanku
"merdeka?"

aku bertanya-tanya dalam sorak sorai semangat anak muda yang merasa mereka merdeka sambil menikmati indahnya penjajahan,
itu, yah, itu,
semua itu ada di negeri ini,
yang sudah merdeka,
sudahkah merdeka?

27/07/09

Mengukir Kenangan

Bagaikan daun-daun kering
jatuh dan terbawa sungai bening
tak satupun tersisa di ranting-ranting
hanya pucuk-pucuk hijau kuning

bagaikan tembok kuat di tepi tebing
dibangun dengan air mata dan kerut kening
akan runtuh menjadi puing-puing
menyatu dengan hening

Dan semua umat manusia
Tak akan ada yang tersisa
semua akan binasa
tinggal kenangan dan dosa

Hari ini aku berdiri,
di sini, di satu sisi bumi,
mengukir dosa dalam kemenangan
mengukir kenangan

Metamorfosis Rasa Rindu

Lama tak bertemu
Tebarkan bibit rindu
Buahkan pilu
Yang merayap perlahan menguasai kalbu

Ku tahu kau tahu
Dan kau tahu itu
Tapi kau biarkan bagai angin lalu
melewati jalanan terbangkan debu

Bagai nyamuk yang mengganggu
untukmu begitulah aku
kau singkirkan dengan tanganmu
lalu kau buang semaumu

betapa tebal rinduku
Setebal gunung beribu-ribu
Rindu itu kini berubah menjadi batu
dan ku harap menghantam kepalamu!!!

01/06/09

Cahaya malam ini

Cahaya penuhi jalanan
malam ini tak kunjung padam
kegelapan hanya ada dalam khayalan
cerita tentang masa lalu dari kejayaan

Tak cukup semua pengorbanan
berarti kosong dan pertanyaan
tak ada yang inginkan jawaban
tak ada yang inginkan penjelasan

Hanya kita yang berjalan
dalam gelap malam
dan kaki telanjang
Namun cahaya telah memenuhi jalanan