05/02/10

Untuk Buaya

Buaya, yang datang dari kolong-kolong
Kini kau lewati lorong-lorong
Berenang di gorong-gorong
mengganggu pengendara kereta dorong

Buaya, berjalan dengan indahnya
menggoyang-goyang lidahnya
mendendangkan lagu khas daerahnya
mengisi penuh hidup dengan gairahnya

Buaya, kini naik sepeda
sepeda roda dua
apa bisa menjalani semua
lalulintas sangat berbahaya

Buaya, suka sama anak tetangga
meski masih balita
namun lezat katanya
memang dasar buaya...

Tobat

Aku telinga yang haus akan nada
ingin kudengar semua lagu di dunia
Aku adalah petikan dawai tak bersuara
mengalunkan getar-getar ke jiwa

Aku adalah raga yang terlena
terbuai oleh indahnya yang fana
seumur hidupku menjauhkanku dari surga
mendekatkanku dengan neraka

Tak akan sanggup segenap hatiku
Tak akan cukup seumur hidupku
tetap ku bulatkan tekatu
ku akan abdikan sisa nafasku,
mengabdi di jalan-Mu.

Bukan Teman Biasa

Adalah malam saat kau usap airmataku
dan ku tiup debu-debu di dahimu
dan pagi saat embun kembali
meresap ke inti bumi

Tapi bukan tawa setiap hari
bukan pula harta dari seluruh negeri
bukan, bukan itu yang ku cari
maka maaf jika dari kenyataan ini aku berlari

Kita bukan ada di satu waktu
bukan ada karena situasi tertentu
bukan kebetulan kita bertemu
kita terikat pada keabadian yang semu

Badut Kuning

terduduk aku di kursi kuning
menanti telephon genggam berdering
tapi kini suasana hening
aku mulai mengerutkan kening

badut masih duduk dengan dungu
Ku masih setia menunggu
Dia yang berbaju ungu
untuk lewati akhir minggu

Televisi putar lagu lama
selama aku menunggu disana
kadang jantungku berdetak berirama
seirama nafasku yang tak bernada

kursi kuning milik sang kaya
sediakan es-krim bagi mahasiswa ilmu budaya
dan bagi mereka yang tak berbahaya
bagi mereka yang datang tanpa bom cahaya

tapi ku tetap menunggu
bersama badut yang dungu
kapan datang si baju ungu
kini sudah satu minggu

Yen ing tawang

yen ing tawang ono lintang cah ayu
aku ngenteni tekamu
marang mego ing angkasa nimas
sun takokke pawartamu
janji-janji aku eling cah ayu
semedhot rasaning ati
lintang-lintang ngiwi-iwi nimas
tresnaku sundul riyadi
dek semono janjimu disekseni
mego kartiko kaire roso tresno asih
yen ing tawang ono lintang cah manis
rungokno tagising ati
pinerung swara ning ratri nimas
ngeteni mbulan ndadari i