17/02/12

-

Entah

aku tidak tahu judul yang lebih baik dari Suatu hujan di satu potong Februari

Setiap mengingatnya, aku merasa seperti bajingan.

Berubu pembenaran sudah kulampirkan di formulir pendaftaranku. Beribu sesal, tapi benarkah aku menyesal?


Entah bagaimana, tapi rasa nyaman itu datang begitu saja, dan ketika ia pergi, rasanya seluruh yang ada di bumi ikut pergi. Maka aku pergi. Teman yang peduli, benarkah mereka peduli?


Memang benar aku seperti anak kecil, pantas kau sebut aku seperti anak kecil. Memang benar aku tak kunjung dewasa, aku sudah mencoba. Toh, aku hanya ingin merasa nyaman, seperti saat kamu di dekatku.

Atau entahlah. Bukan puisi untuk dibaca, aku sendiri tidak tahu apa ini.


Published with Blogger-droid v2.0.1

13/02/12

Berat Dan Kosong #2

Sore yang ku tulis di puisi
mengingatkanku pada seluruh waktu yang ku habisi
dengan secangkir teh manis dan sepotong roti isi
dengan bukit dan pantai di satu sisi

12/02/12

Tanah Surga #1

Aku hidup di negeri surga dimana padi tumbuh di segala musim dan tak seorangpun akan kelaparan, katanya.
Aku hidup di negeri surga, pantai adalah kolam, gunung adalah ruang belajar.
Tanah surga!
lihat disana, jenazah penguasa itu di kubur dengan eloknya di sebuah bukit yang dijadikan miliknya. Penguasa yang tak meninggalkan apa-apa selain kesejahteraan bagi keluarganya.
Lihat disana! bukan disana! lebih bawah lagi, di bawah jembatan yang selalu kau lewati dengan kendaraan mewahmu...
itu pengemis dengan dua anak,
pengemis dengan seorang anak di sebelahnya, seorang anak di pelukannya, dan satu lagi di hadapan Pencipta.
lihatlah dia... bahkan untuk menguburpun tak sanggup.
dan lihatlah kita... tak peduli..

Tanah surga? pantaskah kita?

Sungai Tinta

Jemari tak dapat lagi mengukir kata-kata
bukan karena kehabisan tema
bukan pula karena tak sanggup membuat rima
namun karena takut ada yang terlupa atau tak sanggup melupa

Langkah di taman ini berakhir ketika senja
menggores cerita tentang bahagia dan luka
di antaranya hilang entah kemana
sisanya mengalir di sungai tinta

Sungai tinta, bukan tanpa makna
sungai tinta;  . . .

Sungai tinta, hitam menggores sejuta warna
membentuk pelangi di atas dermaga
ketika kapal berhenti berlayar
dan rindu tak terbayar.