17/12/12
Ketika
kau boleh menangis dan kau boleh tertawa
Ketika Hidup adalah tujuan,
Kematian adalah suatu yang menakutkan
Ketika jujur adalah dosa,
maka kebohongan apa yang tak punya makna?
ketika kau ingin kembali,
aku tak pergi, tak juga menanti
Ketika kita diberi hak berbicara,
apakah diam menjadi tindak pidana?
Ketika warna boleh dipilih,
apakah salah untuk tetap putih?
Ketika manusia bebas berbicara,
apakah diam menjadi dosa?
07/12/12
Mimpi Terbenam
Hidup hanya sandiwara, sendaugurau, kesenangan yang menipu. Entah mengapa kita terlalu disibukkan olehnya, oleh hidup, seolah-olah dia adalah pakaian yang akan kita kenakan selamanya.
Semua orang tahu bahwa yang hidup akan mati. Itu dan itu saja.
Hidup adalah sebagian kecil perjalanan jiwa menuju 'entah apa kamu menyebutnya', nirwana, surga, valhala, atau sekedar kekosongan sempurna.
Bagaimana kamu menjelaskan ajal? tidak akan ada artinya.
Hiduplah bersama kesadaran akan ketidaktahuanmu akannya.
21/09/12
Puisi Nomer Enam Belas
Bisa kulihat biru di langit
Namun tiga warna lenyap sudah dari matamu
Luntur oleh tetes-tetes air mata yang tak dapat lagi kau tahan
Membasahi bumi yang haus akan hujan.
Ku tulis puisi ini sambil termenung,
Duduk di sudut ruang hampa yang penuh dengan sunyi,
Tak kutemui satupun yang dapat obati rinduku.
Ku tulis puisi ini sambil bernyanyi,
Sebuah lagu tanpa nada untuk lirik tanpa rima,
Menggema di kepalaku yang kosong
Menggaung di jiwaku yang entah mengapa selalu merindu.
Ku tulis puisi ini sambil menangis,
Walau aku tahu bahwa kau tak menemukan makna dalam tulisanku,
Dan aku tak menemukan makna dalam hidupku.
18/09/12
Hukum
Apa yang ku lakukan akan kutuai
Seperti buah-buahan yang ku tanam di kebun belakang rumahku.
Tapi tunggu, itu bukan rumahku, tanahnya adalah tanah milik konglomerat yang pagi tadi datang bersama aparat untuk membuatku menjadi keparat yang melarat tanpa tempat untuk beristirahat.
Apa yang kurasa harusnya kau juga rasa,
Karena aku tak ingin sendirian menahan sepi di dada.
Tapi nyatanya kau selalu punya hak untuk bersama siapa saja,
Disaat aku menangis, kau boleh tertawa.
Tanpa Nama
Tiga hari yang lalu
Tertulis di lembar hidupmu
Sebuah surat tanpa tujuan
Penuh dengan ungkapan perasaan
Surat itu tanpa nama
Aku tak tahu untuk siapa
Mungkin saja untuk dia
Pria yang selalu kau cinta
Lima menit berlalu
Dan aku masih ragu
Apa makna puisiku
Sudah, tak perlu dibaca. Hanya menyakitkan matamu.