Tanahmu subur bagai tanah surga
Sungaimu bening mengalir dari nirwana
Lautmu dalam dan menenggelamkan jiwa
Di negerimu, apa yang tak ada?
Tarimu lembut mendayu-dayu
Lagumu mengalun merdu
Didengarkan anak dari sang ibu
Tak terbayankan yang lebih darimu
Ku hanya kotori tempat ini
dan keluhkan yang terjadi
hingga saatnya gempa bumi
ribuan jiwa mati
04/10/09
28/09/09
Bukan Karena Kau Miskin, Namun Karena Kau Lacur
Kau berjalan dengan kaki kecilmu,
lelah jelas terlihat dari wajah tak cantikmu,
keringat bercucuran, keluar dari pori-pori kulit sawo sangat matangmu.
dan kau berada di ujung paling ujung
dari sebuah desa yang berada di ujung negeri paling ujung
dan gubuk lusuhmu berada di kompleks paling ujung
tepat di dekat pertigaan, tepatnya rumah paling ujung
kau di pinggiran,
kau mungkin miskin semiskin-miskinnya hingga tak bisa mengakses dunia maya
kau mungkin miskin sehingga bisa membaca tulisan ini
kau memang miskin, sangat miskin
maka kau berjalan di jalanan panas penuh debu,
dengan perut yang tak kenyang dengan mie pangsit
dengan dosa yang kau buat selama kau merasa semakin baik
dan kau jual dirimu,
kau gadaikan jiwamu,
kau diskon harga dirimu,
hingga semua habis terjual dan kau bukan apa-apa.
kami membencimu bukan karena kau miskin,
namun karena kau lacur
lelah jelas terlihat dari wajah tak cantikmu,
keringat bercucuran, keluar dari pori-pori kulit sawo sangat matangmu.
dan kau berada di ujung paling ujung
dari sebuah desa yang berada di ujung negeri paling ujung
dan gubuk lusuhmu berada di kompleks paling ujung
tepat di dekat pertigaan, tepatnya rumah paling ujung
kau di pinggiran,
kau mungkin miskin semiskin-miskinnya hingga tak bisa mengakses dunia maya
kau mungkin miskin sehingga bisa membaca tulisan ini
kau memang miskin, sangat miskin
maka kau berjalan di jalanan panas penuh debu,
dengan perut yang tak kenyang dengan mie pangsit
dengan dosa yang kau buat selama kau merasa semakin baik
dan kau jual dirimu,
kau gadaikan jiwamu,
kau diskon harga dirimu,
hingga semua habis terjual dan kau bukan apa-apa.
kami membencimu bukan karena kau miskin,
namun karena kau lacur
16/08/09
aih dan ih?
"Merdeka!!!"
"hari ini kita Merdeka!!!"
teriakan itu bergema di sepanjang jalan,
di setiap sudut kota, di setiap ruang hampa,
"merdeka!!!"
setiap mulut dan tenggorokan serukan "merdeka!!!"
hari ini menggema, pagi hingga malam...
masih menggema,
orang tua berjalan menggandeng cucunya yang baru bisa berjalan,
bersama menuju kaki tiang bendera,
terjatuh, bangun, berdiri, terjatuh lagi dan merangkak,
agar mereka dapat lihat kibarnya, bebas, menusuk labgit tanpa batas,
dan agar mereka bisa berteriak dengan keras
"merdeka!!!"
bahkan pemulung membuang seluruh harta yang dia pungut, untuk semata-mata bisa dirikan sebuah tiang bambu dan bendera yang denga bangga dia kibarkan di atas tanah yang kakeknya pernah bilang
"merdeka!!!"
tapi aku idiot,
hanya bisa gambarkan aih dan ih,
hanya bisa sebut dua warna untuk lambangkan satu bangsa, satu nusa, yang susah payah baru dapat disebut dengan satu kata dalam satu bahasa "merdeka!!!"
dan orang-orang yang lebih bodoh dari aku, mengajukan satu pertanyaan yang lebih pintar dari pertanyaanku
"merdeka?"
aku bertanya-tanya dalam sorak sorai semangat anak muda yang merasa mereka merdeka sambil menikmati indahnya penjajahan,
itu, yah, itu,
semua itu ada di negeri ini,
yang sudah merdeka,
sudahkah merdeka?
"hari ini kita Merdeka!!!"
teriakan itu bergema di sepanjang jalan,
di setiap sudut kota, di setiap ruang hampa,
"merdeka!!!"
setiap mulut dan tenggorokan serukan "merdeka!!!"
hari ini menggema, pagi hingga malam...
masih menggema,
orang tua berjalan menggandeng cucunya yang baru bisa berjalan,
bersama menuju kaki tiang bendera,
terjatuh, bangun, berdiri, terjatuh lagi dan merangkak,
agar mereka dapat lihat kibarnya, bebas, menusuk labgit tanpa batas,
dan agar mereka bisa berteriak dengan keras
"merdeka!!!"
bahkan pemulung membuang seluruh harta yang dia pungut, untuk semata-mata bisa dirikan sebuah tiang bambu dan bendera yang denga bangga dia kibarkan di atas tanah yang kakeknya pernah bilang
"merdeka!!!"
tapi aku idiot,
hanya bisa gambarkan aih dan ih,
hanya bisa sebut dua warna untuk lambangkan satu bangsa, satu nusa, yang susah payah baru dapat disebut dengan satu kata dalam satu bahasa "merdeka!!!"
dan orang-orang yang lebih bodoh dari aku, mengajukan satu pertanyaan yang lebih pintar dari pertanyaanku
"merdeka?"
aku bertanya-tanya dalam sorak sorai semangat anak muda yang merasa mereka merdeka sambil menikmati indahnya penjajahan,
itu, yah, itu,
semua itu ada di negeri ini,
yang sudah merdeka,
sudahkah merdeka?
27/07/09
Mengukir Kenangan
Bagaikan daun-daun kering
jatuh dan terbawa sungai bening
tak satupun tersisa di ranting-ranting
hanya pucuk-pucuk hijau kuning
bagaikan tembok kuat di tepi tebing
dibangun dengan air mata dan kerut kening
akan runtuh menjadi puing-puing
menyatu dengan hening
Dan semua umat manusia
Tak akan ada yang tersisa
semua akan binasa
tinggal kenangan dan dosa
Hari ini aku berdiri,
di sini, di satu sisi bumi,
mengukir dosa dalam kemenangan
mengukir kenangan
jatuh dan terbawa sungai bening
tak satupun tersisa di ranting-ranting
hanya pucuk-pucuk hijau kuning
bagaikan tembok kuat di tepi tebing
dibangun dengan air mata dan kerut kening
akan runtuh menjadi puing-puing
menyatu dengan hening
Dan semua umat manusia
Tak akan ada yang tersisa
semua akan binasa
tinggal kenangan dan dosa
Hari ini aku berdiri,
di sini, di satu sisi bumi,
mengukir dosa dalam kemenangan
mengukir kenangan
Metamorfosis Rasa Rindu
Lama tak bertemu
Tebarkan bibit rindu
Buahkan pilu
Yang merayap perlahan menguasai kalbu
Ku tahu kau tahu
Dan kau tahu itu
Tapi kau biarkan bagai angin lalu
melewati jalanan terbangkan debu
Bagai nyamuk yang mengganggu
untukmu begitulah aku
kau singkirkan dengan tanganmu
lalu kau buang semaumu
betapa tebal rinduku
Setebal gunung beribu-ribu
Rindu itu kini berubah menjadi batu
dan ku harap menghantam kepalamu!!!
Tebarkan bibit rindu
Buahkan pilu
Yang merayap perlahan menguasai kalbu
Ku tahu kau tahu
Dan kau tahu itu
Tapi kau biarkan bagai angin lalu
melewati jalanan terbangkan debu
Bagai nyamuk yang mengganggu
untukmu begitulah aku
kau singkirkan dengan tanganmu
lalu kau buang semaumu
betapa tebal rinduku
Setebal gunung beribu-ribu
Rindu itu kini berubah menjadi batu
dan ku harap menghantam kepalamu!!!
Langganan:
Komentar (Atom)